matholek
Menuju insan sholih akrom
+6285712221333

Mengapa Manusia Menulis?

Sebagai satu spesies, manusia boleh dibilang tidak lebih tua dari spesies lain yang ada di muka bumi. Diturunkannya Nabi Adam ke bumi sebagai khalifah (pemimpin) menunjukkan adanya spesies lain yang dipimpin. Apa itu? Hewan, tetumbuhan, dan sekian makhluk ciptaan Tuhan.

Namun demikian, singkatnya sejarah manusia dibanding yang lain tersebut justru menunjukkan satu fakta sejarah yang menakjubkan: manusia berkembang dan belajar dalam waktu yang amat singkat. Tentu kesingkatan tersebut harus dibandingkan dengan umur bumi dan spesies lain yang menghuninya sebelum manusia itu sendiri.

Tuhan membebankan tugas kekhilafahan tentunya bukan tanpa hikmah. Dan hikmah tersebut, tentu dan memang, dapat diraih jika di waktu yang sama Tuhan menggariskan potensi pada diri manusia untuk memikul tugas khilafah. Potensi apakah itu? Akal budi yang mampu belajar dan beradabtasi dengan lingkungan sekitar.

Melalui nalurinya manusia ingin mempertahankan diri, baik sebagai individu maupun spesies. Dan melalui akal budinya, manusia dapat menemukan bagaimana cara bertahan tersebut. Setiap hewan memiliki naluri untuk bertahan hidup, tapi hanya manusia yang mampu mewujudkan naluri tersebut dengan cara yang sangat efisien. Efisiensi berhubungan dengan berbagai ketrampilan manusia. Dan inilah yang tidak dipunyai spesies lain.

Dalam sejarahnya, menurut Ibn Khaldun dalam Muqaddimah, manusia berkembang dalam dua masyarakat: (1) masyarakat badui, (2) masyarakat modern. Masyarakat pertama adalah masyarakat primitif yang biasanya hidup nomaden, orientasinya ialah bertahan hidup dan mencukupi kesehariannya dengan sarana dan prasana yang masih sederhana, dan belum terbentuk sistem pembagian kerja yang kompleks sebagaimana yang kita temui pada masyarakat modern.

Sementara itu, masyarakat modern adalah masyarakat pasca primitif yang sudah berkembang dan sudah berperadaban. Sistem pembagian kerjanya sudah sangat kompleks, sehingga tiap individunya tidak harus berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk bertahan hidup atau harus menanam dan berburu untuk bisa mencukupi kesehariannya.

Kedua masyarakat ini memiliki ketrampilannya masing-masing yang berbeda orientasi. Masyarakat primitif menggunakan ketrampilannya seperti membuat tombak dari batu, menjahit kulit binatang, membuat gubuk dan lain sebagainya, untuk bertahan hidup. Sementara masyarakat modern menggunakan ketrampilan untuk memperluas cakrawala pengetahuan manusia.

Itulah sebabnya, Ibn Khaldun membagi ketrampilan menjadi dua: praktis dan teoritis. Masyarakat modern ialah manusia-manusia yang memiliki dua ketrampilan itu sekaligus. Dan dua ketrampilan yang memuat unsur praktis dan teoritis adalah ketrampilan menulis.

Dalam tinjauan yang lain, ketrampilan menulis termasuk jenis ketrampilan yang kompleks (murakkab), alih-alih sederhana (basith). Ketrampilan sederhana, seperti yang disebutkan Ibn Khladun, terkhusus bagi perkara-perkara yang primer. Inilah ketrampilan yang diperlukan oleh masyarakat primitif. Sedangkan ketrampilan kompleks terkhusus bagi perkara-perkara yang tersier. Ketrampilan jenis kedua muncul belakangan, berkembang sedikit demi sedikit, pelan dan perlahan, sehingga mencapai kepurnaannya. Itulah yang terjadi pada ketrampilan menulis.

Salah satu tujuan adanya tulisan adalah untuk mentransfer informasi kepada generasi setelahnya. Manusia primitif belum membutuhkan tulisan karena informasi yang dibutuhkan oleh mereka ditransfer melalui lisan secara turun temurun. Lambat laun mereka menyadari bahwa cara ini tidak efektif. Ingatan manusia amat mudah usang. Informasi lisan amat rentan terhadap silap maupun pemalsuan.

Maka dari itu, seiring berkembangnya zaman, manusia menciptakan tanda atau kode untuk satu makna yang terucap melalui lisan. Tanda dan kode tersebut awalnya amat rumit. Orang-orang primitif yang dulu hidup di gua-gua mentransfer informasi kepada generasi setelahnya melalui perantara gambar, begitu juga masyarakat Mesir Kuno. Merasa bahwa cara ini kurang efisien, mereka kemudian menciptakan abjad.

Dari tinjauan antropologis sekaligus sosiologis di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa pada awalnya manusia menempatkan ketrampilan menulis ke dalam jenis ketrampilan tersier, yang mana tanpanya manusia individu tetap dapat bertahan hidup. Namun manusia berbeda dari sekian binatang. Naluri mereka bukan hanya untuk melanggenkan individu (melalui makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan seterusnya) dan spesies (melalui alat reproduksi), melainkan juga melanggengkan ingatan mereka untuk generasi setelahnya agar generasi setelahnya hidup dengan lebih layak.

Dengan demikian, ketrampilan menulis bukan lagi bersifat tersier, ia naik ke tingkatan sekunder atau bahkan primer. Apa jadinya manusia tanpa tulisan? Tanpa tulisan, barangkali kita masih hidup di gua-gua dengan pakaian seadanya dan harus bersusah payah hanya untuk mengenyangkan perut. Dengan menulis, manusia dapat mentransfer ingatan, pengalaman, dan pengetahuan, kepada sesamanya lintas zaman, tempat, situasi, dan kondisi. Wallahu a’lam.

 

M.S. Arifin