Muhammad Hasyim Mahfudh – Santri Pati Pejuang Kemerdekaan NKRI

Sebagai santri yang juga putra kiyai, masyarakat biasa memanggil dengan sebutan Gus Hasyim, nama lengkap beliau adalah Muhammad Hasyim putra Mbah Mahfudh Salam Kajen (wafat-1944) lahir di Kajen pada tahun 1929 M. Beliau adalah anak kedua dari enam bersaudara yaitu :

1. Hj. Muzayyanah, istri KH Mansyur Lasem (ibu dari Gus Qoyyum)
2. Muhammad Hasyim
3. KH. MA Sahal Mahfudh Kajen
4. Hj. Salmah, istri KH Mawardi Bugel Jepara
5. Hj. Fadhilah, istri KH Rodhi Sholeh Jakarta
6. Hj. Khodijah, istri KH Maddah Zawawi Kencong Jember

Sebagai seorang anak muda yang hidup di masa perjuangan kemerdekaan Negara Republik Indonesia Gus Hasyim mewarisi jiwa perjuangan dari ayahanda beliau KH Mahfudh Salam seorang pejuang yang gigih melawan penjajahan Belanda yang akhirnya wafat di penjara Ambarawa pada tahun 1944 dan dimakamkan di komplek pemakaman penjara Belanda di Ambarawa. Sepeninggal ayahandanya selanjutnya beliau bersama saudara-saudaranya yang lain diasuh oleh paman beliau KH Abdullah Salam Kajen.

Santri muda Gus Hasyim memiliki karakter yang keras dan tegas dalam memegang prinsip kehidupannya hingga memilih terjun di medan laga dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sikap ketegasan dalam perjuangan inilah yang meng-inspirasi para santri untuk ikut terjun dalam perjuangan fisik mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia menyambut seruan Resolusi Jihad yang dikumandangkan oleh Rois Akbar Nahdhatul Ulama Hadhrotus Syekh KH Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945. Dengan diikuti beberapa santri Kajen yang lain diantaranya, Abdullah Sa’id (putra KH Mustaghfiri Kajen), Masyhadi, Na’im Ihsan, dan lain-lain beliau malang melintang dalam peperangan melawan agresi Belanda I dan agresi Belanda II. Beliau berjuang dalam barisan Hizbullah bahu membahu dengan Tentara Nasional Indonesia melakukan penyergapan dan perampasan senjata dari tentara Belanda kemudian menyimpannya di komplek pemakaman Kajen serta mendistribusikannya kepada pejuang-pejuang lain. Hingga beliau terkenal di kalangan pejuang dengan kemampuan mengoperasikan senjata-senjata rampasan dari tentara Belanda.

Kepiawaian beliau dalam melancarkan serangan mendadak di jalur patroli Agresor Belanda dan keahliannya dalam mengoperasikan senjata rampasan inilah yang menjadikannya sasaran dan target operasi Belanda. Keberadaan beliau selalu dimata-matai, oleh karenanya beliau tidak pernah menetap di satu tempat lebih dari satu malam, beliau selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Hingga akhirnya di penghujung tahun 1949 di satu surau di wilayah Sukolilo Pati saat beliau selesai Jamaah Shalat Ashar mengimami dua orang santri, Abdul Manan dan Sholeh serta seorang anggota Tentara bernama Harun terjadilah penyergapan oleh patroli Belanda, Gus Hasyim ditangkap saat berdoa sesudah sholat Ashar beberapa kali tembakan diarahkan kepada beliau tetapi tidak mempan dan akhirnya diberondong dengan senjata otomatis hingga akhirnya gugur sebagai seorang Syahid saat mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam usia yang masih sangat muda yaitu dua puluh (20) tahun, sementara para pengikut beliau berhasil lolos dan menyampaikan kabar penangkapan dan kematian beliau ke Kajen. Jasad beliau pada awalnya dimakamkan di Sukolilo setelah beberapa tahun kemudian atas ijin keluarga akhirnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Pati (dengan nomor makam 95 atas nama Hasyim ket. Gugur) dan pada saat dipidahkan jasad beliau masih dalam keadaan utuh.

Semoga keikhlasan, perjuangan, dan pengorbanan beliau demi mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia senantiasa dapat kita kenang dan khususnya bagi para santri semoga beliau senantiasa menjadi inspirasi dan menjadi tauladan dan symbol kecintaan santri pada negeri tercinta Indonesia.