Minggu pagi, 02 April 2017, siswa dengan nilai mumtaz (di atas 180) dari nilai gabungan ujian syafawi (lisan) dan tahriri (tertulis) di setiap kelas, mulai kelas 4 Ibtidaiyah sampai dengan 3 Aliyah, dan tidak pernah absen masuk Dauroh Arobiyah (kursus Bahasa Arab) kecuali sakit dan izin,dipanggil untuk mengikuti seleksi siswa terbaik (mutafawwiq). Seperti yang dijelaskan oleh bapak M. Hasyim Ridlwan, salah satu pengurus Qism Dauroh Li Qism Lughoh Al-Arobiyyah (Lembaga Pengembangan bahasa Asing divisi Bahasa Arab), secara umum salah satu tujuan pemilihan siswa mutafawwiq ini adalah untuk memotivasi siswa agar lebih meningkatkan kemampuan berbahasa Arab mereka.
Materi tes pemilihan siswa mutafawwiq ini ada tiga, yakni insya’ (mengarang tulisan berbahasa Arab) yang judulnya ditentukan oleh pengawas, menerjemahkan majalah bahasa Arab ke bahasa Indonesia, dan muhadatsah (dialog) dengan guru menggunakan bahasa Arab. Dari situ akan diambil beberapa siswa dengan nilai terbaik.
Siswa terbaik akan dipilih dalam tiga kategori. Kategori pertama tingkatan Ibtidaiyah dan Diniyah Ula. Kategori kedua tingkatan Tsanawiyah dan Diniyah Wustho. Sedangkan yang terakhir tingkatan Aliyah. Setiap kategori akan diambil tiga siswa terbaik.
Salah satu siswa yang mengikuti tes tersebut, Budi Andarso (2 Aliyah A), mengemukakan, ia merasa gugup karena memang baru pertama kalinya mengikuti tes ini. Namun saat sudah dimulai rasa gugup tersebut mulai menghilang. “Kalau grogi ada, saat tidak bisa menjawab materi yang diujikan.” jelasnya.
Hasil tes ini akan diumumkan saat penutupan Dauroh Arobiyah pada hari Kamis, 06 April 2017. (Muhamad Syafiq Syarofi)