Pati, NU Online

Dalam memperingati seratus hari wafatnya Rais Aam PBNU KH MA Sahal Mahfudh, Pengurus Pusat Keluarga Mathali’ul Falah (KMF) bekerja sama dengan KMF Yogyakarta menerbitkan buku berjudul “Belajar dari Kiai Sahal”. Buku tersebut diluncurkan dan dibedah di kampus STAI Mathali’ul Falah Purworejo Margoyoso Pati, Sabtu (03/05).

Selain di Pati, bedah buku akan diadakan di berbagai kota-kota seperti Yogyakarta, Semarang, Jakarta dan lainnya. Putra Kiai Sahal H Abdul Ghaffar Rozin menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada PP KMF yang sudah menerbitkan buku tersebut. Menurutnya, buku “Belajar Kiai Sahal” bisa menjadi salah satu referensi pandangan terhadap sosok dan pemikiran Kiai Sahal.

Pria yang akrab disapa Gus Rozin ini juga bercerita bahwa seminggu sebelum wafat, Kiai Sahal menitipkan pesan yang sangat dalam kepadanya. “Ijtihad o (berijtihadlah)!” kenang Gus Rozin.

Hadir dalam acara tersebut KH Husein Muhammad, pengasuh pesantren Dar Al-Tauhid Arjawinangun Cirebon dan Ketua PBNU M Imam Aziz. Keduanya memaparkan sosok Kiai Sahal dari perspektif masing-masing.

Kiai Husein lebih banyak mengomentari kefaqihan Kiai Sahal, sementara M Imam Aziz lebih menekankan aspek ke-NU-an tokoh kharismatik yang memimpin NU selama tiga periode tersebut.

“Banyak hal yang telah dilakukan oleh Kiai Sahal, di antaranya adalah beralih dari fiqih qauliy ke fiqih manhaji,” komentar Kiai Husein. Menurutnya, fiqih manhaji inilah yang mendasari gagasan fiqih sosial Kiai Sahal.

Di NU ada sebuah kalimat yang dijadikan selogan “al-muhafadhah ‘ala al-qadimi as-shalih, wal akhdu bi al-jadidi al-ashlah”. Menurut Kiai Husein, Kiai Sahal tidak lagi berkutat pada “al-muhafadhah alal-qadimis-shalih”, tapi sudah di tahapan “al-akhdu bil-jadidil-ashlah”. Ia menilai bahwa pemikiran Kiai Sahal sangat progresif, berbeda dengan kiai salaf lainnya.

Buku berjudul “Belajar dari Kiai Sahal” berisi kisah-kisah inspiratif yang dialami orang di sekitar Kiai Sahal. Selain itu, buku ini memuat tulisan tentang Kiai Sahal yang tersebar di berbagai media massa pasca wafatnya (24/01).

Analta Inala selaku marketing buku mengatakan antusiasme masyarakat mencari buku tersebut sangat tinggi. Buku setebal 374 halaman tersebut ludes terjual di hari pertama peluncuran. “Insya Allah akan segera dicetak ulang,” katanya. (Sarjoko/Mahbib)

Sumber: NU Online